Karena komunikasi adalah kuntji! Day 3: membahas zakat dengan ayah
Zakat adalah kewajiban setiap umat muslim. Kadang kita lupa uang masuk dan keluar seperti air mengalir, lupa menghitung, lupa mencatat. Berbeda dengan shadaqah yang bisa kita keluarkan semau kita semampu kita. Zakat jumlah minimalnya harus precise, batasnya sesuai dengan jumlah harta yang dimiliki.
Berawal dari dapat selebaran yg dibagikan oleh amil zakat di mal waktu belanja bulanan, pas sampai rumah baru ngeh sesuatu dari isi selebaran itu dan harus dikomunikasikan sama bapaknya si bocil.
Cek waktu pas kayaknya, bulan ramadhan, habis buka puasa jadinya badan seger.. bismillah mulai..
"Ayah...loh ternyata zakat uang itu nishabnya pakai perak bukan emas loh, ini aku liat di sini" saya menunjukkan brosur
"Mana? Bukan ah emas...ininih!"suami saya menunjukkan bagian zakat profesi
"Bukan ayah, coba dilihat bagian zakat uang" saya menunjukkan bagian lain yaitu zakat uang yg menggunakan nishab perak.
Alis suami sudah mulai berkerut. Perasaan saya mulai gak enak. Dalam hati saya, yaampun kok suami saya gak paham banget sih kalau zakat itu wajib, cuma ngeluarkan 2,5% aja kok, daripada diadili di akhirat...pikiran sudah melayang kemana2..tp saya tetap diam tidak mau memperkeruh suasana.
Kemudian
"Ini bun..coba catat aset kita di sini!"kata suami sambil menunjukkan aplikasi di android
"Ummm...ternyata yang dimaksud uang ada rinciannya ya? Hehehe" saya jawab sambil malu2 inget kalau masih punya tunggakan kpr dan tabungan di bank belum seberapa 😛
"Kan aku udah bilang kalau aku udah itung di aplikasi ini"
Ya Allah...untung saya diam...untung saya berhasil untuk tidak memperkeruh suasana karena beda FOR dan FOE, choose the right time dan menggunakan bahasa yang jelas tetap saja bisa menimbulkan gesekan jika saja tidak mau menunggu sampai suami melakukan penjelasan. Aaahh pelajaran komunikasi dengan pasangan bagi saya baru saja dimulai.
Komentar
Posting Komentar