Karena komunikasi adalah kuntji! Day 9: membawa hikam ke rumah duka.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Telah berpulang Bu lastri tetangga saya subuh ini di RS Haji. Semoga beliau husnul khatimah dan diterima segala amal ibadahnya.

Setelah shalat subuh suami saya pulang mengabarkan berita tersebut dan meminta saya ikut serta mengantarkan kepergian beliau. Setelah sy siap2 tanpa sempat mandi, hikam bangun. Dan mau tidak mau diajaklah ia.

Sampai di rumah duka, saya beserta ibu-ibu lainnya duduk di dalam rumah mengucapkan bela sungkawa kepada saudara dan anak Almarhumah. Hikam ikut saya ke dalam tapi tidak lama.

Ia keluar rumah dimana ada bapaknya dan entah apa yang ia lakukan. Disitu saya merasa salah..tidak seharusnya saya datang membawa hikam, selaim hikam anaknya pecicilan, ibu2 lainnya juga tidak ada yg bawa anak.tapi mau bagaimana lagi, hikam tidak mungkin ditinggal sendirian di rumah dan tidak mungkin pula saya tidak datang ke rumah duka.

Tidak lama berselang, hikam mulai berulah. Dari teriak2, wara wiri lari2, dan minta dinyalakan kipas angin kepada yg punya rumah. Disitu saya tidak bs apa2 karena sy tidak dapat mobile hanya bisa elus dada.

Sampai akhirnya sebelum jenazah datang dari rumah sakit saya mohon pamit. Saya ajak hikam keluar rumah, ia malah asik utak atik kipas angin tetangga. Sy malu sekali...mulai dari nada lembut tdk bisa diajak keluar sampai akhirnya sy tdk dapat memaintain emosi saya.

Saya tarik badannya dengan paksa hingga ia meronta2 karena ingin bermain kipas yg tidak pd waktu dan tempatnya.

Astaghfirullah...gagal...

Komentar

Postingan Populer